Terbangunnya Tata Kelola Pemerintahan Desa Yang Baik, Transparan, Bersih Dan Akuntabel Guna Mewujudkan Kehidupan Masyarakat Desa Yang Berkeadilan, Berkemakmuran Dan Berkesejahteraan
(MOJOWARNO, 31/08/2026) – Pemerintah Desa Mojowarno bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Mojowarno menggelar kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi warga pada Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan pelayanan kesehatan jemput bola ini dipusatkan di Balai Desa Mojowarno mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Kepala Desa Mojowarno, Tatag Yudianto, S.Sos., menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah desa terhadap kesejahteraan masyarakat. "Kami ingin memastikan seluruh warga Desa Mojowarno bisa mengakses layanan kesehatan dasar dengan mudah, cepat, dan tanpa biaya," ujarnya.
Layanan kesehatan yang disediakan meliputi pemeriksaan tekanan darah, cek kadar gula darah, kolesterol, asam urat, serta konsultasi medis langsung. Program ini menyasar seluruh lapisan masyarakat, khususnya para lansia dan warga yang memiliki keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan.
Kepala Puskesmas Mojowarno, Sri Wahyuningsih, S.Gz., M.Gz, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga bertujuan sebagai langkah deteksi dini terhadap penyakit tidak menular (PTM).
"Melalui pemeriksaan ini, kita bisa mendeteksi lebih awal potensi penyakit seperti hipertensi dan diabetes. Selain pemeriksaan, tim kami juga memberikan edukasi mengenai gizi seimbang agar warga bisa menjaga pola hidup sehat," jelas Sri Wahyuningsih.
Pemerintah Desa dan Puskesmas Mojowarno mengimbau seluruh warga untuk memanfaatkan momentum ini dengan hadir tepat waktu dan membawa kartu identitas berupa Kartu Keluarga (KK) guna keperluan pendataan administrasi medis.(pns)
(MOJOWARNO, Agustus 2026) — Keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Desa Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, sebenarnya membawa angin segar bagi sistem sanitasi lokal. Dengan kapasitas pengolahan yang diarahkan untuk mereduksi sampah langsung dari sumbernya, fasilitas ini memegang peran krusial dalam menjaga kebersihan lingkungan desa.
Infrastruktur fisik pun terus diperkuat oleh pemerintah desa, salah satunya melalui penyelesaian pembangunan pagar pembatas TPS3R di Dusun Sidoluweh demi menjamin keamanan fasilitas operasional. Berbagai inovasi pengolahan limbah organik menjadi produk bermanfaat—seperti kompos hingga Eco Enzyme—pun telah mulai diperkenalkan di sini. Namun, di balik dinding-dinding fasilitas yang kian kokoh, sebuah tantangan klasik dan mendasar masih membayangi: rendahnya partisipasi masyarakat untuk mendaftarkan diri menjadi anggota resmi TPS3R.
Jalan Sunyi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Prinsip dasar TPS3R adalah pengelolaan berbasis masyarakat. Keberlanjutan operasionalnya sangat bergantung pada iuran rutin warga sebagai anggota serta kedisiplinan mereka dalam memilah sampah dari rumah. Sayangnya, hingga saat ini belum semua warga Desa Mojowarno sadar dan tergerak untuk bergabung ke dalam sistem komunal ini.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak rumah tangga yang masih memilih jalur pintas. Mulai dari membuang sampah ke lahan kosong, membakarnya secara mandiri di pekarangan rumah, hingga membuangnya ke aliran sungai. Pola pikir bahwa "sampah adalah urusan masing-masing setelah keluar dari pintu rumah" menjadi batu sandungan terbesar bagi para pengurus kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang mengelola TPS3R Mojowarno.
Minimnya jumlah anggota resmi ini berdampak domino pada keberlanjutan fasilitas:
Krisis Operasional: Anggaran dari iuran warga tidak mencukupi untuk menutup biaya operasional penuh, seperti upah petugas pengumpul, perawatan armada motor roda tiga, dan pembelian alat pemilah.
Ancaman Sampah Liar: Penumpukan sampah di titik-titik ilegal desa tetap terjadi, yang pada akhirnya memicu pencemaran lingkungan hulu dan mengganggu estetika desa.
Beban Kerja Berlebih pada Petugas: Petugas di lapangan terpaksa menyisihkan waktu ekstra untuk memilah sampah yang datang dalam kondisi tercampur baur karena minimnya edukasi di tingkat rumah tangga.
Mengurai Akar Masalah
Mengapa warga masih enggan menjadi anggota? Jika dibedah, ada tiga faktor utama yang saling berkelindan:
Kurangnya Edukasi dan Pemahaman Konsep: Sebagian masyarakat masih menganggap TPS3R sama dengan tempat pembuangan sampah terbuka (open dumping). Mereka belum memahami bahwa sampah yang masuk diproses secara higienis menjadi pupuk atau bahan baku daur ulang bernilai ekonomis.
Faktor Keekonomian Iuran: Bagi sebagian warga, kewajiban membayar iuran bulanan pengelolaan sampah dinilai sebagai beban tambahan, terutama ketika mereka merasa masih bisa menyingkirkan sampah secara gratis dengan cara membakar atau membuangnya ke alam terbuka.
Belum Adanya Regulasi Desa yang Mengikat: Tanpa adanya Peraturan Desa (Perdes) yang tegas mengenai pengelolaan persampahan beserta sanksi bagi pembuang sampah sembarangan, imbauan untuk menjadi anggota TPS3R hanya akan dianggap sebatas angin lalu.
Strategi Merangkul Warga Desa
Pertama. Mengubah perilaku masyarakat tidak bisa dilakukan dalam semalam. Diperlukan pendekatan humanis sekaligus struktural dari berbagai lini. Langkah pertama yang mendesak adalah penguatan sosialisasi door-to-door dengan menggandeng kader PKK, ketua RT/RW, serta mahasiswa lintas sektor (seperti program KKN) untuk mendemonstrasikan manfaat nyata produk daur ulang seperti Eco Enzyme langsung ke lingkungan rumah tangga.
Kedua, Pemerintah Desa Mojowarno bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang perlu merumuskan regulasi lokal yang mewajibkan kepesertaan pengelolaan sampah bagi setiap kepala keluarga. Kebijakan ini bisa diintegrasikan dengan insentif, misalnya kemudahan pengurusan administrasi desa bagi warga yang tercatat aktif sebagai anggota TPS3R.
Ketiga, transparansi pengelolaan harus ditunjukkan kepada warga. Ketika masyarakat melihat bahwa sampah yang mereka setorkan benar-benar dikelola dengan aman dan diubah menjadi produk berguna bagi pertanian desa, kepercayaan publik akan tumbuh dengan sendirinya.
Kesimpulan
TPS3R Desa Mojowarno tidak akan pernah mencapai performa optimalnya jika hanya dianggap sebagai proyek infrastruktur milik pemerintah. Fasilitas ini adalah milik bersama, sebuah mesin pelestari lingkungan yang bahan bakar utamanya adalah kepedulian dan gotong royong warga. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi anggota bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi mewujudkan Desa Mojowarno yang bersih, sehat, dan mandiri secara ekologis. (pns)
(Mojowarno, Agustus 2026) - Pemerintah Desa kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan infrastruktur dan keamanan fasilitas umum. Dua proyek penting, yaitu pembangunan pagar Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di Dusun Sidoluweh dan pengaspalan jalan di Dusun Sidoluwih, kini telah selesai direalisasikan sepenuhnya.
Pembangunan pagar TPS3R Dusun Sidoluweh ini didanai melalui anggaran Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp90.044.000. Alokasi anggaran tersebut telah berjalan secara transparan dan sesuai dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) 2026 yang telah disepakati bersama.
Dengan rampungnya pagar pembatas ini, fasilitas di dalam area TPS3R dipastikan akan jauh lebih aman, tertata, serta terlindungi dari potensi kehilangan atau kerusakan barang-barang operasional pengolahan sampah.
Tidak hanya fokus pada fasilitas kebersihan, Pemerintah Desa juga sukses merealisasikan proyek pengaspalan jalan di wilayah Dusun Sidoluwih. Infrastruktur jalan yang sebelumnya memerlukan perbaikan kini sudah mulus dan siap menunjang mobilitas harian warga.
Kepala Desa Mojowarno Tatag Yudianto, S.Sos. menyampaikan bahwa proyek pengaspalan ini merupakan bentuk pelayanan nyata untuk masyarakat. Melalui akses jalan yang lebih baik, diharapkan aktivitas ekonomi dan sosial warga menjadi lebih mudah, cepat, aman, serta memberikan kenyamanan yang optimal bagi setiap pengguna jalan yang melintas.(PNS)
[desamojowarno.my.id] – Kepala Desa Mojowarno mengeluarkan imbauan penting kepada seluruh warga masyarakat untuk segera memeriksa dokumen kependudukan masing-masing. Bagi warga yang belum memiliki Kartu Keluarga (KK) atau masih memegang KK model lama (berwarna biru), diharapkan untuk segera melakukan pengurusan.
Kabar baiknya, kini masyarakat Mojowarno tidak perlu lagi meluangkan waktu, ongkos, dan tenaga untuk mengurusnya ke Kantor Kecamatan. Pemerintah Desa Mojowarno telah mengintegrasikan sistem layanan administrasi kependudukan (Adminduk), sehingga seluruh proses pengajuan hingga pencetakan KK terbaru dapat diselesaikan cukup di Kantor Desa Mojowarno saja.
Mengapa KK Anda Harus Segera Diperbarui?
Kartu Keluarga adalah dokumen dasar yang menjadi kunci utama dalam mengakses berbagai pelayanan publik. Menunda pembuatan atau pembaruan KK dapat merugikan warga sendiri dalam banyak urusan krusial, seperti:
Validasi Bantuan Sosial: Data KK lama yang tidak padan (tidak sinkron) dengan database pusat membuat warga berisiko terhapus dari daftar penerima bansos, PKH, atau BLT.
Layanan Kesehatan Gratis: Proses pendaftaran, aktivasi, dan klaim BPJS Kesehatan atau JKN-KIS wajib menggunakan data KK terbaru yang sudah daring.
Pendidikan Anak (PPDB): Penerimaan siswa baru jalur zonasi sangat ketat dalam memeriksa masa berlaku dan keabsahan barcode pada KK instansi keluarga.
Akses Perbankan & Hukum: Pengajuan kredit usaha (KUR), pembuatan paspor, hingga urusan waris membutuhkan legalitas KK versi digital terbaru.
KK Model Lama
Warna Kertas Biru muda
Tanda Tangan Manual oleh Camat/Kepala Dinas
Legalitas Cap basah instansi
KeamananRentan dipalsukan / rusak
KK Model Baru (Format Digital)
Warna Kertas Putih polos (HVS 80 gram A4)
Tanda Tangan Tanda Tangan Elektronik (TTE)
Legalitas Kode QR (QR Code) unik
Keamanan Sangat aman, bisa dicetak mandiri jika hilang
Alur Pelayanan Satu Pintu di Kantor Desa Mojowarno
Proses birokrasi kini dipotong demi kenyamanan warga. Anda tidak perlu lagi pergi jauh-jauh ke kecamatan. Silakan langsung datang ke loket pelayanan Kantor Desa Mojowarno dengan alur mudah berikut:
[Masyarakat] ──> Bawa Berkas ke Kantor Desa ──> Verifikasi Petugas Desa ──> Input Sistem Adminduk ──> KK Baru Dicetak di Tempat
Warga cukup melangkah ke Kantor Desa Mojowarno pada jam kerja dengan membawa dokumen pelengkap sesuai kebutuhan transaksinya:
Pembaruan KK Model Lama (Ganti ke QR Code): Cukup membawa fisik KK lama yang berwarna biru.
Keluarga Baru (Baru Menikah): Membawa fotokopi Buku Nikah/Akta Perkawinan dan KK asli dari masing-masing orang tua.
Penambahan Anggota (Kelahiran Anak): Membawa KK asli yang berjalan dan Surat Keterangan Kenal Lahir dari bidan/rumah sakit.
Pengurangan Anggota (Kematian/Pindah): Membawa KK asli dan Surat Keterangan Kematian (jika ada yang meninggal) atau SKP (jika pindah domisili).
PENGUMUMAN PENTING: Kepala Desa Mojowarno menegaskan bahwa seluruh proses pengurusan Kartu Keluarga di Kantor Desa ini berjalan transparan dan 100% GRATIS! Tidak ada biaya administrasi, biaya cetak, atau pungutan liar dalam bentuk apa pun.
Mari bersama-sama mewujudkan tertib administrasi kependudukan di desa kita. Segera urus Kartu Keluarga Anda minggu ini demi kelancaran urusan masa depan keluarga Anda!Jika ada informasi tambahan yang ingin dimasukkan sebelum diunggah ke website, silakan beri tahu saya:Apakah Anda ingin mencantumkan nama lengkap Kepala Desa Mojowarno?Apakah perlu ditambahkan jadwal jam pelayanan loket yang spesifik atau nomor WhatsApp pelayanan desa untuk tanya jawab warga?
(MOJOWARNO, 16/08/2026) – Suasana sakral dan guyub rukun menyelimuti seluruh dusun di Desa Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, pada Minggu malam, 16 Agustus 2026. Ratusan warga dari berbagai Rukun Warga (RW) serentak menggelar tradisi Bari’an—acara tasyakuran dan doa bersama di gang-gang desa guna menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Acara yang dimulai serentak selepas salat Isya ini berlangsung secara khidmat dan penuh rasa kekeluargaan. Tanpa sekat sosial, warga dari berbagai usia berkumpul duduk bersila di atas tikar yang membentang di sepanjang jalan lingkungan, diterangi temaram lampu hias berwarna merah putih.
Doa Lintas Generasi dan Kenangan Perjuangan
Di setiap RW, susunan acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang berkumandang lantang, memecah keheningan malam. Setelah itu, para tokoh masyarakat setempat memberikan sambutan singkat yang mengingatkan warga, khususnya generasi muda, akan beratnya perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
Puncak acara ditandai dengan doa lintas agama dan tahlil bersama. Warga menundukkan kepala dengan khusyuk, memanjatkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan serta mendoakan kepada para pejuang kemerdekaan yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan RI, disamping itu juga mendoakan keselamatan, kemakmuran, dan kedamaian bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi seluruh masyarakat Desa Mojowarno.
Tradisi Kembul Bujana: Simbol Kerukunan Warga
Selesai berdoa, suasana khidmat berubah menjadi penuh canda tawa dan kehangatan saat memasuki sesi ramah tamah. Warga menikmati hidangan tumpeng dan berkat yang dibawa dari rumah masing-masing menggunakan takir (wadah).
"Tradisi Bari’an ini rutin kami adakan setiap tahun. Bukan sekadar seremonial, tetapi ini modal utama kami untuk menjaga kerukunan, gotong royong, dan mempererat silaturahmi antar-tetangga," ujar salah satu Ketua RW di Desa Mojowarno.
Acara Bari'an di Desa Mojowarno malam ini membuktikan bahwa semangat nasionalisme dan nilai kearifan lokal tetap hidup subur di tengah masyarakat, memperkokoh persatuan dalam bingkai kesederhanaan yang guyub rukun.(pns)
(MOJOWARNO, 15/08/2026) – Gelak tawa dan teriakan semangat menggema di Balai Desa Mojowarno pada pagi hari ini. Ibu-ibu Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Mojowarno sukses menggelar berbagai perlombaan berkelompok yang seru dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Sejak pukul 08.30 WIB, halaman dan balai desa sudah dipadati oleh para kader dan warga dari berbagai dusun yang siap bertanding mengenakan seragam olahraga khas masing-masing.
Uji Kekompakan Lewat Lomba Beregu
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini didominasi oleh perlombaan yang membutuhkan kerja sama tim yang solid serta ketangkasan tinggi. Berikut adalah empat jenis lomba utama yang dipertandingkan:
Estafet Air Beregu: Menguji fokus dan koordinasi tim saat mengalirkan air menggunakan wadah ke barisan belakang tanpa boleh tumpah.
Sarung Berantai: Menampilkan keseruan para peserta yang harus memindahkan sarung dari ujung ke ujung barisan dengan cara saling bergandengan tangan tanpa putus.
Lari Sarung Beregu: Mengundang gelak tawa penonton saat beberapa ibu harus berlari bersama dalam satu sarung besar menuju garis finis.
Mancing Kerupuk: Menghadirkan keseruan unik di mana peserta berlomba mengarahkan kail peniti untuk menangkap tali kerupuk menggunakan konsentrasi penuh.
Dorong Solidaritas Antarwarga
Ketua TP PKK Desa Mojowarno, Ibu Tatag Yudianto, mengungkapkan bahwa pemilihan jenis lomba beregu ini sengaja dilakukan untuk memupuk kembali rasa gotong royong dan kebersamaan di kalangan ibu-ibu desa. Beliau menegaskan bahwa kemenangan bukanlah tujuan utama, melainkan eratnya tali silaturahmi dan pudarnya sekat antarwarga.
Kemeriahan acara pagi ini ditutup menjelang siang hari dengan pembagian hadiah hiburan bagi tim-tim yang berhasil menunjukkan performa dan kekompakan terbaik.(pns)
(Mojowarno, 31 Juli 2026) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur melaksanakan program “Dari Dapur ke Kebun” melalui sosialisasi dan praktik pembuatan Eco Enzyme serta pengenalan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa hidroponik berbasis galon bekas. Kegiatan ini diselenggarakan di Lapangan Badminton Balai Desa Mojowarno dan diikuti oleh Ibu-Ibu PKK sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna dan ramah lingkungan.
Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi mengenai Eco Enzyme yang menghadirkan Ibu Puspita Aring Wilis atau kerap disapa Ibu Riring sebagai Narasumber. Ibu Riring dipilih sebagai narasumber karena memiliki pengalaman dalam memproduksi dan memanfaatkan Eco Enzyme untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Ibu Riring merupakan salah satu anggota PKK RW 04 yang aktif dalam pembuatan Eco Enzyme. Pengalaman tersebut didasari oleh banyaknya manfaat Eco Enzyme, sehingga beliau secara rutin mengolah limbah organik menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai manfaat, bahan, dan tahapan pembuatan Eco Enzyme, kemudian dilakukan praktek pembuatan Eco Enzyme.
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026
Sebagai bentuk pemanfaatan hasil fermentasi, peserta juga diperkenalkan pada berbagai produk turunan Eco Enzyme berupa sabun cuci piring berbahan dasar Eco Enzyme. Produk tersebut dibuat oleh kelompok yang kemudian dibagikan kepada peserta sebanyak satu botol sabun cuci piring dan juga diberikan satu botol Eco Enzyme hasil produksi Ibu Riring. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan produk rumah tangga yang lebih ramah lingkungan. Selain dijadikan sebagai produk cuci piring, Eco Enzyme juga dapat dimanfaatkan sebagai deterjen, perbengkelan, obat kulit, dan semua masalah bau.
Setelah sesi sosialisasi Eco Enzyme, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa hidroponik sederhana berbasis galon bekas yang diberi nama HIMO-13 (Hidroponik Mojowarno 13). Teknologi ini merupakan inovasi yang dirancang oleh mahasiswa KKN Kelompok 13 dengan memanfaatkan galon bekas sebagai wadah instalasi hidroponik yang praktis dan ramah lingkungan. Pemilihan galon bekas sebagai wadah instalasi hidroponik didasarkan pada kemudahan dalam memperoleh bahan, biaya yang relatif murah, serta sebagai upaya mengurangi limbah plastik.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa menjelaskan konsep dasar hidroponik, keuntungan, pemanfaatan hasil panen, serta tahapan pembuatan instalasi hidroponik sederhana. Sebagai implementasi program, tim KKN menyerahkan empat unit HIMO-13, dengan pembagian dua unit untuk masing-masing RW dan dua unit lainnya diserahkan kepada perwakilan ibu-ibu PKK sebagai media pembelajaran dan praktik budidaya sayuran secara mandiri. Setiap unit dilengkapi dengan label berisi kode QR yang dapat dipindai untuk mengakses materi hidroponik, brosur edukasi, serta panduan pembuatan dan perawatan instalasi hidroponik, sehingga adanya kode QR dapat memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi dan melakukan hidroponik secara mandiri.
Melalui program “Dari Dapur ke Kebun”, Mahasiswa KKN Kelompok 13 berharap masyarakat dapat mengoptimalkan pemanfaatan limbah rumah tangga, baik limbah organik maupun anorganik, menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Eco Enzyme mengolah limbah organik dapur menjadi produk multifungsi, sedangkan hidroponik berbasis galon bekas memanfaatkan limbah plastik sebagai media budidaya tanaman. Kedua program tersebut menjadi wujud penerapan prinsip reuse dalam mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan, serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, meningkatkan perekonomian masyarakat, dan ketahanan pangan rumah tangga.
Ditulis oleh:
Divisi Humas KKN Kelompok 13 Desa Mojowarno Kabupaten Jombang