Visi:

Terbangunnya Tata Kelola Pemerintahan Desa Yang Baik, Transparan, Bersih Dan Akuntabel Guna Mewujudkan Kehidupan Masyarakat Desa Yang Berkeadilan, Berkemakmuran Dan Berkesejahteraan

Blustar Production: Saat Daun Beluntas yang Terbuang Berubah Jadi Kerupuk Khas Jombang

NAMA USAHA        : BLUSTAR PRODUCTION

NAMA PRODUK     : KERUPUK BELUNTAS

NO WA                      : 0856-5512-0100

TAHUN BERDIRI    : 2021

PEMASARAN   : SHOPEE (Blustar Kerupuk Daun Beluntas), TIKTOK (BlustarOfficial), INSTAGRAM (blustarjombang), GMAPS (Blustar Jombang - Kerupuk Beluntas)

ALAMAT                  : Jl. Abisai No.52G, Mojowarno Satu, Mojowarno, Jombang. Jawa Timur

LINK                         : https://maps.app.goo.gl/a6T94TWUJHj2VEYLA?g_st=ac

Dari program PKM kerupuk daun beluntas rintisan Ibu Abidah kini menjadi oleh-oleh khas yang mulai dikenal luas di Jombang.


KEY FOCUS

Bahan Baku Unik 

Tanpa Bahan Baku Tambahan 

Proses Produksi yang Masih Tradisional

Kerupuk beluntas memiliki bahan dasar daun beluntas yang biasanya dipakai untuk membuat jamu dan sayur, kini beluntas hadir dalam bentuk kerupuk tanpa mengurangi kandungan didalamnya.

Kerupuk beluntas memiliki komposisi bahan bahan alami tanpa menggunakan zat adiktif sehingga aman untuk dikonsumsi segala umur. kerupuk beluntas dapat bertahan hingga satu bulan.


Kerupuk ini masih memakai cara tradisional mulai dari pengumpulan bahan baku hingga pengemasan. Proses pembuatan dari daun ke adonan dan pengeringan yang memakan waktu hingga lima hari.

SEJARAH SINGKAT

Daun Beluntas di sekitar Desa Mojowarno sangat jarang dimanfaatkan untuk produksi inovasi, lebih banyaknya dibuat untuk masak. Sisanya dibiarkan layu atau dibakar. Namun di tangan Ibu Abidah, pemilik usaha Blustar Production, daun yang selama ini kurang dilirik itu justru menjadi bahan utama sebuah produk unik yaitu kerupuk daun beluntas khas Jombang. 

Usaha yang dirintis Ibu Abidah sejak 2021 ini berawal dari sebuah program tugas kuliah yaitu PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang menuntutnya menciptakan produk inovasi. Melihat daun beluntas tumbuh melimpah namun jarang dimanfaatkan, muncul gagasan sederhana yaitu mengubahnya menjadi camilan.

“Awalnya memang dari tugas, karena kita dituntut untuk membuat produk inovasi….waktu itu malah lolos di tugas itu, kemudian ikut lomba dan menang juga.” ungkap Ibu Abidah.

Keberhasilan meraih juara dalam sebuah lomba menjadi titik balik yang meyakinkan Ibu Abidah bahwa produknya punya nilai jual. Sejak saat itu, kerupuk daun beluntas yang semula hanya proyek kampus terus dikembangkan hingga lulus kuliah, bahkan sampai sekarang.

Bahan utama kerupuk ini tentu saja daun beluntas, yang dicincang kasar lalu dicampur dengan tepung terigu dan bahan rahasia lainnya. Tidak ada bahan pengawet yang digunakan. Adonan kemudian diuleni secara manual hingga rata, dikukus, dicetak persegi panjang, dipotong tipis-tipis, lalu dijemur sebelum akhirnya digoreng.

Proses dari adonan hingga menjadi kerupuk mentah (krecek) memakan waktu satu hingga tiga hari, tergantung cuaca. Ketelitian menjadi kunci utama, sebab kesalahan kecil dalam takaran bahan bisa membuat adonan sulit diiris.

“Kalau misalkan perbandingan bahannya itu meleset dikit gitu jadinya adonannya tuh susah diiris. Jadi emang benar harus diperhatikan dan cara nguleninya harus rata.” jelas Ibu Abidah.

Kebersihan turut dijaga ketat, mulai dari penggunaan sarung tangan hingga tempat produksi yang bersih. Untuk menjaga rasa tetap segar tanpa bahan pengawet, Ibu Abidah menerapkan kontrol produksi setiap satu bulan sekali, memastikan produk yang sampai ke konsumen selalu dalam kondisi optimal.


Blustar Production tampil beda dari kerupuk daun pada umumnya. Rasa pahit khas daun beluntas berhasil disamarkan lewat racikan bumbu, menyisakan cita rasa gurih yang justru banyak disukai. Dari segi bentuk, produk ini juga dibuat rapi berbentuk persegi panjang, berbeda dari kerupuk sejenis di pasaran yang umumnya berbentuk bulat tidak beraturan.

Produk ini hadir dalam dua varian rasa, yaitu original dan pedas, dan telah mengantongi sertifikat halal, meski sertifikat PIRT saat ini masih belum diperpanjang.

Meski telah berjalan lebih dari lima tahun, perjalanan Blustar Production tidak lepas dari tantangan. Pengenalan produk ke pasar yang lebih luas, konsistensi konten media sosial, hingga optimalisasi penjualan di marketplace menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Ibu Abidah. Menjaga keseimbangan antara stok dan permintaan pun menjadi tantangan tersendiri, mengingat produk tanpa pengawet ini harus selalu sampai ke konsumen dalam keadaan segar.

“Support dari keluarga, dosen, maupun pelanggan yang lain juga banyak yang nyari. Eman kalau mandeg, jadi makanya stok krecekannya tuh tetap ada, meskipun gorengnya sesuai pesanan.” ungkap Ibu Abidah.

Bagi Ibu Abidah, dukungan dari keluarga, dosen, hingga pelanggan setia menjadi dukungan untuk terus melangkah, meski dengan ritme yang tidak secepat usaha lain yang bermodal besar.

Kehadiran Blustar Production turut memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Proses produksi yang melibatkan masyarakat lokal telah membuka lapangan pekerjaan tambahan, terutama saat pesanan sedang ramai. Warga sekitar pun menyambut baik keberadaan produk ini, yang kerap dijadikan oleh-oleh khas bagi kerabat yang berkunjung ke Jombang.

Ibu Abidah berharap Blustar Production dapat terus berkembang, mulai dari optimalisasi penjualan di Shopee dan TikTok Shop, pengelolaan media sosial yang lebih aktif, hingga perbaikan titik lokasi di Google Maps agar calon pembeli tidak lagi kesulitan menemukan lokasi produksi. Ke depan, Ibu Abidah berharap produknya bisa menembus pasar ekspor, meski ia menyadari hal itu membutuhkan proses panjang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PRODUK UNGGUILAN DESA

MOU

Gaya dan Aksimu

desamojowarno1@gmail.com